Berkuliah Tidak Seperti Dalam FTV

Halo... salam kenal buat para pengunjung blog ini. saya sudah teramat lama tidak aktif dalam lini blog milik saya ini. postingan terakhir saya terekam jejak pada tahun 2015. Wajar sih bila postingan terakhir ada di tahun itu, sebab pada tahun itu saya sedang dipusingkan berbagai kegiatan khas anak SMA kelas 3. Namun itu sudah berlalu, bahkan kini saya sudah mencecap bangku kuliah dalam kurun waktu tiga tahun lebih ini. Waktu memang cepat berlalu. Saya yang sejak masa SMA selalu menulis hal yang berkaitan dengan dunia IPA, mendadak harus banting stir ke sebuah dunia baru. Ah, tapi bukan dunia baru juga sih, sebab saya pun sudah berkecimpung di dunia itu, meski tak pernah ditekuni secara mendalam. tiga tahun yang lalu, saya berhasil diterima dalam jurusan sastra di sebuah perguruan tinggi negeri di jawa tengah. 

Memasuki dunia kampus, diawali oleh saya dengan sebuah hal yang tak menyenangkan. Saya harus terpaksa tidak mengikuti kemeriahan ospek kampus karena sakit aneh dadakan yang saya rasakan waktu itu. Memang ospek tidak terlalu jadi prioritas, tanpa ospek pun maba tetap akan jadi mahasiswa di kampus itu. Hanya saja, moment kebersamaan dengan anak-anak dari berbagai fakultas yang harus saya lewatkan begitu saja. Hal itu yang membuat saya merasa menyayangkan ketika mengingat kembali. 

Hari berganti, saya mulai menjalani perkuliahan dengan berbagai mata kuliah yang saya ambil. Sewaktu SMA mungkin kita membayangkan perkuliahan terlihat begitu fleksibel dalam waktu, karena jam mata kuliah yang berbeda-beda, tidak langsung dari pagi sampai sore diisi dengan perkuliahan semua, pasti akan ada jeda jam disana sini. Terlihat tak sepenuhnya salah, tetapi tak dapat dikatakan benar juga. Jam perkuliahan yang berbeda memang membuat kita ada waktu kosong untuk bersantai, tetapi percayalah bukan santai yang akan kita dapat. Pada saat waktu kosong itu tiba kita akan lebih memilih mengisinya dengan menyicil tugas, karena kalau tidak tugas itu akan menumpuk dan terus menumpuk.

Menjadi seorang mahasiswa, apalagi seperti saya yang memutuskan merantau, sama sekali tidak mudah. Pada awalnya saya harus beradaptasi dengan dua lingkungan sekaligus, lingkungan kost dan juga lingkungan kampus. Bersyukurnya, anak-anak kost saya begitu kompak pada tahun pertama, karena memang kami seangkatan, meski dari berbagai fakultas yang berbeda. Saya lebih bersyukur karena saya dipilihkan kost yang begitu dekat dengan kampus, ini disebabkan keterbatasan fisik saya sehingga saya tidak bisa untuk cepat lelah. kamar kost pun dipilihkan yang lokasinya di lantai paling bawah, sebab sekali lagi saya memiliki keterbatasan fisik yang kadang kala tak bisa untuk naik tangga. 

Teman, kalian tau, saya memutuskan banting stir bukan karena saya tidak mampu bersaing secara akademik dalam bidang saintek itu. Namun saat selepas SMA ini, saya sengaja memilih jurusan yang tak membuat saya terlalu lelah. Sebab saya tau bahwa bila saya memilih mengambil saintek, jadwal tidur saya akan menjadi sangat tidak teratur, karena begitu banyak laporan praktikum yang harus diselesaikan untuk tenggat esok hari. iya, alasan utamanya kembali lagi pada fisik saya.

Namun menjadi bagian dari mahasiswa sastra juga masih ada laporan yang harus dikerjakan, kita memang tak bisa membantah itu karena mahasiswa akan tetap menerima pembuatan laporan, didalam jurusan apapun yang dipilih. tetapi tentu saja tidak akan sebanyak mahasiswa saintek. 

baiklah, saya sudahi dulu disini ya, nanti bila ada waktu senggang saya akan menceritakan kehidupan kampus atau kehidupan kost yang saya jalanin.

Terima kasih. 
salam hangat penulis, Rayna
Mohon gunakan bahasa yang sopan dan tidak mengandung unsur sara dalam berkomentar. 
''perkataanmu mencerminkan siapa dirimu''

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Severus Snape (About Harry Potter)

Cara Membuat HTML Pada Notepad

my love